Kejadiannya Sesaat Sakitnya Abadi
bagaimana rasanya bisa tenang ditengah gemuruh badai yang datang tanpa henti setiap saatnya? badainya mungkin tidak datang setiap saat, namun kehancuran pasca badai yang begitu berantakan bagaimana cara merapikannya? bagaimana cara membersihkannya? kapal yang terombang-ambing, tersambar petir lalu pecah hancur dan berpencar. kapal yang hanya berisi seorang kapten yang kebingungan bagaimana cara agar dia bisa bertahan pasca badai, bagaimana cara merakit kembali kapalnya hanya sendirian, merapihkan puing-puing sisa serpihan setiap komponen kapal yang berserakan. entah terdampar di mana sang kapten, tanpa peta, tidak tahu arah tujuan, tidak tahu hendak ke mana apalagi meminta bantuan pada siapa. bukankah sudah dikatakan sebelumnya, hanya ada satu kapten dalam kapal itu yang sekarang sedang kebingungan dengan segala dampak pasca badai itu.
bukan satu dua kali badai datang menghantam sang kapten dan kapalnya, namun terus berulang, berkali-kali. merakit kembali kapalnya, lalu kembali diterpa badai dan hancur lagi. berputar pada poros yang seperti itu-itu saja. "tapi ini bukan sekedar kapten dan kapalnya."
bagaimana jika direalitakan "kapten dan kapal" itu? membuka perasaan yang entah rasanya pun tidak diketahui.
"masalah datang lagi, kapten. siapkah dirimu? siap tidak siap kau harus siap kapten, karena hanya ada kau di sini."
ya, masalah itu kembali. perasaan yang bercampur-aduk antara sedih, kesal. marah, dan kecewa. mencari tempat pelarian namun tidak pernah menemukan tujuan di mana pelarian ini akan berakhir. dada yang sesak dan sakit bagai tertancap pedang, kepala yang rasanya terhimpit oleh hal yang sangat berat, dan tubuh yang tiada daya untuk digerakan. semua terasa begitu hancur dan berat, tidak ada daya untuk melakukan apapun.
semua perasaan yang bercampur membentuk rasa kecaman yang disebut rasa benci, benci lalu bermutasi menjadi dendam. tidak bisa merealisasikan apa yang dirasa, tidak boleh mengeluarkan perasaan sebenarnya, harus ditahan, jangan sampai perasaan itu keluar. menahan, ditahan, dan tertahan. berapa lama? entah berapa lama, tidak tahu.
berharap apa? ada penenang? tidurlah dan bermimpi tanpa pernah bangun. itulah ketenangan abadi yang diimpikan. pergi sejauh mungkin, berlari sekencangnya, menjumpai cinta yang raganya sudah tak berbentuk namun seolah menarikmu untuk mendekat kepadanya.entah kapan waktunya raga dan jiwa ini mengikuti ajakan untuk masuk dalam ketenangan abadi itu. entah dengan sendirinya, atau menggunakan sedikit paksaan.
tak ada setiap rekaman kejadian yang terlupakan, tiada setiap perasaan terelakan. semuanya terekam jelas tanpa ada hal sekecil apapun tertinggal. menancap dengan jelas dan kuat, melekat pada rasa, jiwa, dan raga.
dan pada akhirnya...
"sesuatu yang telah terjadi sifatnya tidak dapat dirubah"
namun semua rasa yang melekat pada jiwa dan raga ini bermutasi menjadi keburukan dalam bentuk yang bahkan tidak pernah terpikirkan.
Komentar
Posting Komentar