TERANG BAGI ORANG LAIN BELUM TENTU TERANG UNTUKMU
Hallo, wellcome back with everyday with izzah!!! Udh lama ga ngeblog akhirnya balik juga hehehe... kali ini cuman mau nuangin isi kepala sama isi hati yang sedikit bisa aku uraikan
Aku penderita BPD (Borderline Personality Disorder) sejak 2019 dan sekarang naik level jadi bipolar disorder sejak 2021. Kehidupan mentalku mulai banyak berubah sejak didiagnosis bipolar. Mulai dari mood yang bisa sangat buruk ataupun sangat bersemangat, cara perpikir dan berprilaku yang berubah-ubah, kebiasan dan sifat yang berubah, dan masih banyak hal lain yang terjadi. Rasanya bipolar itu tidak bisa diutarakan. Ketika mood mu hancur, yang akan terbayang adalah bagaimana kamu harus mengakhiri duniamu yg rasanya sangat berantakan. Ketika mood mu mulai bagus pun kamu harus berhati-hati agar tidak membahayakan dirimu. Bipolar bagiku itu seperti berperang sendiri melawan dua sisi jiwamu yang saling bertabrakan dan tidak ada yang bisa mengalah sedikitpun. Yang ada dalam pikiranku hanya bagaimana bisa selesai dengan hidup yang rasanya sangat sulit dijalani. Yang terpikirkan hanya hal-hal terburuk untuk dilakukan. Kalau depresi sedang datang, berusaha waras untuk bertahan hidup itu sangat amat menyakitkan mengingat depresi yang datang bukan sekedar karena adanya trigger tertentu. Jika fase manic datang, saya harus mati-matian menahan diri untuk mengatur kesenangan dah keberanian ekstrim yang tidak pernah segan untuk membuat saya terbunuh. Catatan utamanya adalah fase depresi (sedih) dan fase manic (senang) datang begitu saja dengan sendirinya bahkan tanpa ada trigger apapun. Di situlah letak sulitnya, saya tidak bisa sesuka hati mengatur keduanya karena seperti yang saya katakan ini bagaikan perang.
Selama saya mengalami bipolar maupun BPD banyak hal buruk yang berputar di kepala saya yang membuat saya selalu ingin menjerumuska diri pada hal buruk yang ditentang oleh islam dengan sendirinya, walaupun sebenarnya yang ingin saya lakukan hanya melepas jilbab, merokok, dan tato. Tapi semua itu saya lawan dengan sepenuh jiwa bahkan rasanya jiwa saya pun hampir mati melawannya. Dan bahkan mungkin, jiwa saya memang sudah mati. Kepala yang dipenuhi dengan keributan dan suara yang bising tanpa tau asalnya dari mana, hati yang hampa dan penuh kebencian tanpa tau apa penyebabnya, raga yang bahkan tidak memiliki daya untuk digerakkan. Hidup yang serasa seperti mati, tidak banyak hal menyenangkan, tidak ada kebahagiaan yang bertahan sedikit saja lebih lama.
Saya menyaksikan bagaimana setiap manusia dengan masalah hidup maupun kebahagiaannya, saya belajar hidup dari mereka, saya mencontohi hal baik dari mereka, saya bahkan mengerti bagaimana mereka. Tapi setiap ptraktek hidup yang saya tiru belum ada yang mampu menghilangkan kehampaan jiwa ini. Setiap hal baik yang saya lakukan hanya berujung pada rasa hampa yang tidak berujung, saya bahkan belum mendapat ketenangan darinya. Semakin lama hal buruk dalam pikiran saya selalu menghantui setiap saat. Dorongan dan hasrat yang entah dari mana selalu datang dan memaksa saya untuk melakukan hal yang melanggar nilai seorang perempuan.
Sampai saat di mana hidup saya semakin bermasalah dan dorongan jahat semakin menjadi-jadi, saya mulai berani mengambil tindakan yang bernilai buruk dalam pandangan orang lain. Saya mulai berani sesekali keluar tanpa jilbab bahkan saya mulai merokok. Bukan tanpa sebab, saya hanya mulai bingung ingin mencari "tenang" dari isi kepala yang sangat ribut ini bagaimana, bagaimana cara agar hati yang hampa ini sedikit terisi dengan perasaan yang belum ada sebelumnya. Dulu saya adalah orang yang paling membenci rokok, namun setelah saya mencobanya saya baru mengerti arti ketenangan dengan sebuah asap yang selalu dikatakan perokok "hanya orang yang merokok yang tau rasanya". Saya mengerti ketika saya menyentuh rokok maka dunia akan memandang saya adalah perempuan yang sangat buruk bahkan saya diasingkan sepertinya HAHAHAHAH.
Dan saya mulai menyentuh asap, banyak saran dan masukan yang datang pada saya bahkan banyak kesedihan dan amarah yang menyelimuti penilaian orang lain pada saya. Namun apa yang bisa saya lakukan? Saya hanya bisa mendengerkan dan menerima segala penilaian itu dengan penuh kesadaran bahwa semua saran dan masukan yang datang tidak bisa saya lakukan dengan mudah. Bahkan jika penilaian buruk orang lain membuat mereka ingin menjauhi saya, saya yang akan pergi dari mereka agar mereka bisa hidup tenang tanpa kebencian pada saya.
Tidak ada satu orang pun yang paham bagaimana kondisi saya menghadapi bipolar yang sangat mengganggu hidup saya! Tidak ada seorangpun yang bisa mengerti bagaimana susahnya saya melawan diri sendiri! Berdoa? Saya sudah berdoa pada allah! Apa yang terjadi? Semakin saya berdoa semakin saya tidak bisa berperang dengan diri sendiri! Saya melawan emosi sy sendiri, saya berperang dengan jiwa saya sendiri, saya berusaha sendiri untuk keluar dari lingkaran hitam yang terus menjerumuskan saya pada kegelapan! Orang lain tau apa? Orang lain mengerti apa? Mereka datang dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat sedangkan saya masih dengan trauma, trust issue, amarah, yang bahkan nilai dan norma masyarakat tertolak dengan sendirinya oleh jiwa saya yang telah hancur!
SAYA SENDIRI! HANYA SENDIRI! melawan semuanya sendiri, merasakan semuanya sendiri, menahan semuanya sendiri, memaksakan semuanya sendiri. Seberat ini yang saya rasakan tidak akan pernah ada satu orangpun yang mengerti kesederian berat yang saya alami!
Komentar
Posting Komentar